Travel Destination : Hello From Kabaena!

Helloooo! Wah udah lama juga enggak nulis tentang travelling, pas banget hari ini aku mau share tentang liburan kemarin selama beberapa hari di Pulau Kabaena, dimana sih Pulau Kabaena itu?


Pulau Kabaena terletak di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Nah aku bakal bercerita dari awal sebelum aku tiba di Pulau Kabaena. Aku berangkat dari Jakarta menuju Kendari selama kurang lebih 3 jam dengan transit satu kali di Makassar, waktu transit hanya sekitar 30 menit dan setelah itu langsung naik pesawat dari Makassar ke Kendari kurang lebih 50 menit. Setelah tiba di Kendari, kita menggunakan jasa mobil sewa selama 3 jam menuju Bombana.



Tiba di Bombana, kita menginap 1 malam agar besok pagi bisa menyeberang ke Pulau Kabaena menggunakan Kapal Motor dari Pelabuhan Kasipute menuju Pelabuhan Sikeli selama kurang lebih 4 jam. Untuk alternatif lain tersedia Kapal Cepat atau Speed Boat tapi sayangnya hanya tersedia satu kapal dan saat itu sedang rusak.


Sesampainya di Pelabuhan Sikeli, kita bisa merasakan udara yang lumayan panas dan pemandangan kapal-kapal motor yang menepi berjajar, pelabuhan ini terlihat sibuk karena melalui pelabuhan ini lah, penduduk setempat menyeberang ke Bombana. Dari sini, kita masih menggunakan jasa penyewaan mobil kurang lebih satu jam untuk sampai ke Desa Wisata Tangkeno yang berada di puncak gunung, jalan yang dilalui pun termasuk terjal dan belum dipasang pengamanan di pinggir jalan, kita benar-benar merasakan off road saat menikmati perjalanan dari Pelabuhan Sikeli ke Desa Wisata Tangkeno. Jalanan yang menanjak curam, bebatuan, jurang di sisi lainnya, semua terbayarkan saat sampai di Desa Tangkeno. Pemandangan desa yang indah, udara yang jauh lebih sejuk dan kita bisa melihat kabut di puncak atas Desa Tangkeno.





Desa Wisata Tangkeno atau yang dijuluki Negeri Di Awan ini berada di Kabupaten Bombana, Kecamatan Kabaena Tengah, Sulawesi Tenggara. Tangkeno, diberikan tagline Negeri di Awan pertama kali oleh mba' Yaya Hidayati, mantan Direktur Greenpeace Indonesia, yang Direktur WALHI sekarang, terinspirasi dari lagu Katon Bagaskara (info dari pembaca blog Suluh Langit Askara). Panorama yang disajikan dari desa ini begitu indah, terdapat banyak potensi wisata yang dapat menarik turis baik lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahan Desa Wisata Tangkeno. Wisata alam yang dapat dinikmati yaitu seperti Hiking di Gunung Sangia, mandi di Air Terjun Tondopano dan mengunjungi situs budaya seperti benteng-benteng dan goa yang berada di Tangkeno.

Tidak hanya itu, sesampainya di Tangkeno kita disambut meriah oleh para gadis-gadis penari baik anak-anak maupun remaja. Dengan tarian tradisional khas Tangkeno, kita dihibur dan suasana menjadi begitu akrab. Seperti tidak ada pemisah antara penduduk setempat dengan turis yang datang, semua berbaur, menari dan tertawa.












Setelah disambut meriah oleh penduduk setempat, kita pun beristirahat dan tinggal di rumah warga. Menyatu dengan alam, berbaur dengan penduduk asli desa Tangkeno, merasakan udara dingin dan air yang sejuk dari gunung, suasana desa yang asri dan bersih, panorama dari puncak yang luar biasa indah, membuatku jatuh cinta kepada desa ini dari pandangan pertama.

Keesokan harinya, pilihan wisata jatuh kepada Hiking atau Tracking Gunung Sangia. Rasa penasaran yang membuatku memilih hiking daripada jalan-jalan bersama rombongan lain ke Goa dan Air Terjun Tondopano.


Dengan peralatan seadanya, menggunakan kaos putih, kemeja dan celana jeans, tidak lupa menggunakan kaos kaki dan sendal gunung, serta topi yang berguna untuk melindungi wajah dari sengatan matahari, maka berangkatlah kami memulai hiking ke Gunung Sangia. Awal perjalanan dimulai menggunakan mobil, lalu dilanjutkan menggunakan motor untuk melewati jalan setapak yang sangat curam dengan sudut yang sangat tajam. Benar-benar sebuah tantangan buatku yang sejujurnya belum pernah hiking, ini adalah pengalaman pertama kalinya dan rasanya sungguh luar biasa!


Setelah sampai di area hiking, kami pun memulai perjalanan dengan berjalan kaki. Tidak lama, kami menemukan benteng yang konon katanya benteng-benteng tersebut tersusun dari batu lempeng tanpa perekat, atau beberapa ada yang mengatakan hanya menggunakan putih telur sebagai perekatnya. Benteng-benteng pertahanan yang ditemukan ini menunjukkan simbol kekuasaan masa lalu yang kaya akan nilai sejarahnya.


Kami berhenti di beberapa titik untuk istirahat dan berfoto, jujur aja badanku hampir lunglai di pos pertama karena mungkin aku termasuk orang yang jarang sekali olahraga, jadi mudah capek dan masih kaget saat harus berjalan jauh seperti ini. Untungnya aku bersama tim yang sangat kooperatif, kami berhenti untuk sekedar menikmati langsung mata air gunung dan menikmati segarnya kelapa muda yang dipanjat langsung saat sebagian dari kami sudah mulai kehausan. Dibawah ini adalah foto Pak Made dari KOMPAS, di umur beliau yang tidak muda lagi, aku benar-benar salut dengan semangatnya untuk hiking bersama kami. Oh iya, Almarhum Norman Edwin, wartawan Kompas yang juga pendaki gunung terkenal yang meninggal tahun 1992 di Aconcagua, Argentina, sempat juga melakukan pendakian di Gunung Sabampolulu, Tangkeno sebelum beliau berangkat ke Argentina (info dari pembaca blog Suluh Langit Askara). Kalau kalian belum tahu, Gunung Sabampolulu adalah salah satu Gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara, dan yang aku daki bersama kawan-kawan lainnya ini adalah anak gunung Sabampolulu, yaitu Sanghia atau Gunung Watu Sangia :)


Kurang dari setengah perjalanan, kami disuguhi pemandangan indah dari balik gunung. Hutan yang hijau dan udara yang bersih, nuansa alam yang tidak mungkin ditemukan di Ibukota tercinta. This is really awesome!








Lalu tibalah kami di sebuah batu besar, yang artinya perjalanan kami mendaki puncak gunung hanya tinggal beberapa langkah lagi. Disini kami kembali istirahat, membuka bekal dan menikmati makanan sambil bercanda satu sama lain.




Setelah beristirahat sebentar, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak Batu Sangia. Walaupun tinggal sedikit lagi, tetapi batu-batu yang harus kami lewati sangatlah terjal dan licin karena terdapat lumut bebatuan. Tetapi dengan semangat yang kuat dan keinginan untuk sampai puncak, finally we did!



Foto dibawah ini memperlihatkan betapa jelasnya kondisi bebatuan yang harus dilalui, sampai harus diangkat dan ditarik agar bisa sampai ke puncak, sungguh pengalaman yang luar biasa! hahahaha. Seperti yang dikatakan Bang Ari, salah satu tim hiking dari Aceh " sia-sia kaya makna".



Pemandangan yang menakjubkan membuatku terkagum-kagum, keindahan dan keagungan ciptaan Sang Maha Pemilik Semesta sungguh membuat mata ini terpana. Puji syukur akan kebesaran Allah SWT aku panjatkan saat melihat pemandangan yang baru pertama kalinya bisa aku saksikan secara langsung, bukan melalui foto ataupun media sosial, tetapi secara langsung dan melalui pengorbanan yang ternyata tidaklah mudah.







Walaupun wajah sudah sangat lelah, banjir keringat, tangan dan kaki mulai keram, pemandangan yang didapat saat berhasil naik ke puncak batu Sangia menghapus semua perasaan lelah dan letih saat menapaki satu persatu batu agar sampai ke puncak. Batu Sangia yang sebelumnya terlihat sangat jauh dari Desa Tangkeno, telah berhasil aku pijak dan sampai ke puncak. Team Hiking yang saling membantu, saling menolong dan yang terpenting dari semuanya adalah doa, membuatku berhasil mencapai puncak! Hore!



Foto dibawah ini adalah Pak Made dengan gagahnya berpose dengan latar langit yang biru dan awan putih, mencapai puncak dengan semangatnya yang tidak pernah lelah.




Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak batu Sangia, kami pun turun ke bawah dan kembali ke rumah warga. Perjalanan menuruni gunung lebih cepat, lebih banyak menemukan jalan yang menurun sehingga tidak terlalu lelah seperti saat menanjak. Pengalaman pertama hiking ini tidak akan pernah aku lupa karena ini merupakan hal baru buatku, Pulau Kabaena sangat mudah membuatku jatuh cinta, panorama baik gunung maupun lautnya yang memanjakan mata.

Keesokan harinya adalah wisata laut ke Pulau Sagori yang terletak di Kabaena Barat, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kita menyeberang dari Pelabuhan Sikeli menggunakan kapal motor dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit sampai 1 jam.



Tantangannya tidak hanya sampai disitu, ternyata untuk menepi di pulau, kita harus berganti kapal yaitu menggunakan perahu kecil nelayan yang benar-benar sangat kecil dan bergantung pada keseimbangan. Sensasi yang enggak akan terlupakan, di tengah lautan luas, bergantung kepada perahu kecil yang kapan saja ombak besar datang bisa membalikkan perahu kami. Memacu adrenalin dan membuat jantung sedikit berdegup kencang, lagi-lagi ini pengalaman pertamaku naik perahu yang super kecil di tengah lautan luas.

















Pulau Sagori merupakan wilayah kelurahan Sikeli dan dihuni oleh suku Bajau. Rata-rata penduduk di Pulau Sagori membudi-dayakan rumput laut maka dari itu kita banyak menjumpai rumput laut yang sedang dijemur di depan halaman rumah mereka. Menurut sejarah, konon katanya di pulau ini pernah dijadikan persinggahan armada Belanda ketika menyerang kesultanan Buton. Apabila air sedang surut, kita dapat melihat rongsokan kapal layar VOC yang diperkirakan berada di kedalaman 13 meter.









Pulau Sagori tidak hanya memberikan panorama keindahan pantai saja, tapi juga terkenal oleh sunrise dan sunset-nya yang luar biasa indah. Pulau yang memiliki pantai dengan hamparan pasir putih ini juga dihiasi oleh pohon-pohon pinus di sekitarnya. Tidak hanya itu, Pulau Sagori juga memiliki taman bawah laut yang indah, untuk para pecinta diving wajib mencobanya.


Melakukan perjalanan beberapa hari di Pulau Kabaena, masih belum mencukupi rasa penasaran akan wisata lainnya yang belum sempat aku coba. Salah satunya ke Goa dan Air Terjun Tondopano, untungnya aku bisa melihat melalui foto yang secara eksklusif diambil saat rombongan lain pergi kesana.



Nah buat kalian yang tertarik ingin berlibur ke Pulau Kabaena, aku punya tips yang bisa bermanfaat saat berada di sana. Apa aja sih yang harus dibawa untuk liburan ke Pulau Kabaena?

1. Gunakan tas ransel yang mudah dibawa, hindari koper besar karena perjalanan ini lebih banyak menggunakan transportasi laut, agar lebih mudah dibawa saat turun dari kapal motor.
2. Bawa sunblock wajah dan tubuh, pakai sesering mungkin apabila kita sedang berada di pantai maupun daerah wisata outdoor lainnya karena cuaca di pulau sangat terik.
3. Kacamata, topi, kaos lengan panjang yang tipis (apabila tidak ingin belang), lip balm, handuk kecil , celana pendek/panjang dan sendal jepit menjadi barang wajib yang harus ada di ransel kalian. Jangan menggunakan rok panjang apalagi jika ingin ke Pulau Sagori, karena nantinya kita akan basah dan susah melompat saat berpindah menaiki kapal kecil.
4. Siapkan sendal gunung ataupun sepatu sneakers, jangan lupa membawa kaos kaki agar tidak lecet saat hiking dan kaos kaki juga berguna untuk dipakai  malam hari karena udara yang dingin.
5. Untuk penginapan, kita akan tinggal di rumah warga (untuk harga per malam sangat bervariasi) usahakan optimalkan pemakaian baterai handphone ataupun kamera. Listrik baru ada setelah jam 6 maghrib dan untuk penerangan di kamar sudah disediakan lampu gantung.
6. Ke desa tangkeno wajib untuk menikmati kabut di puncak atas, apabila ingin menikmati indahnya sunrise usahakan bangun pukul 4 pagi dan naik ke atas menggunakan motor/mobil untuk menikmati hawa sejuk dan dinginnya "Negeri Di Awan".
7. Untuk makanan, Di Tangkeno lebih banyak menyediakan ikan sebagai sumber lauk pauknya, untuk kamu yang bosan dengan ikan, di warung-warung kecil tersedia indomie rebus yang bisa mengobati kangen makanan ibukota.
8. Siapkan obat-obatan seperti hansaplast, tolak angin, vitamin, minyak kayu putih, koyo, obat sakit kepala, obat batuk, obat asma (bagi yang memiliki asma) dan jangan lupa bawa jaket ataupun sweater agar tidak masuk angin saat malam hari.
9. Signal handphone hanya ada di puncak atas desa Tangkeno dan saat turun ke bawah menuju Pelabuhan Sikeli. Saat di rumah warga, signal sama sekali tidak ada, jadi usahakan mengabari keluarga sanak famili saat berada di anjungan.
10. Bawa senter kecil karena pada saat malam, jalan sangat gelap dan kita bisa berjaga-jaga menggunakan senter.

Me and my lovely blogger bestfriend, Hani from nonahikaru.com


Bawa uang cash seperlunya dan jaga barang bawaan saat di Kapal Motor, perjalanan dari Pelabuhan Kasipute, Bombana ke Pelabuhan Sikeli memakan waktu kurang lebih 4 jam. Kita bisa gunakan waktu tersebut untuk tidur ataupun berfoto-foto pemandangan dari kapal. Total perjalanan memakan waktu kurang lebih 12 jam dari Jakarta. Bawa buku bacaan atau ipod agar tidak merasa bosan di perjalanan, siapkan permen atau makanan kecil untuk berjaga-jaga saat lapar.


Alright, semoga apa yang aku share bisa bermanfaat buat kalian yang juga penasaran ingin menikmati keindahan Pulau Kabaena, menikmati sunrise maupun sunset di Pulau Sagori, menyatu kembali ke alam di Desa Wisata Tangkeno dan juga pecinta hiking serta wisata alam lainnya. See you in my next trip!

Share:

8 comment

  1. ak repost ya non di instagram @kabaena_
    Suka banget liputan dan pic-nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. siaap.. asal dicantumkan sumber blog aku ya ^^

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Tangkeno, diberikan tagline Negeri di Awan pertama kali oleh mba' Yaya Hidayati, mantan Direktur Greenpeace Indonesia, yang Direktur WALHI sekarang, terinspirasi dari lagu Katon Bagaskara.. keren tulisannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Almarhum Norman Edwin, wartawan Kompas yang juga pendaki gunung terkenal yang meninggal tahun 1992 di Aconcagua, Argentina, sempat melakukan pendakian di Gunung Sabampolulu, Tangkeno sebelum berangkat ke Argentina..

      Delete
    2. Halo thank you untuk infonya ya! Bakal aku cantumin dan update di tulisan ini supaya lebih lengkap ^^

      Delete