Jerawat Dan Bagaimana Cara Berhenti Dari Ketergantungan Cream Perawatan Dokter



Dalam tulisan kali ini aku mau bahas panjang lebar tentang ketergantungan kulit wajah dengan obat perawatan dokter. Disini aku mau cerita kenapa dan kok bisa aku berniat berhenti dari krim perawatan dokter yang selama ini selalu aku pakai secara rutin hampir 2 tahun lamanya. Sebenernya kulit aku sudah berjerawat dari jaman SMA akhir sekitar kelas 3 dan waktu itu sih aku mikirnya karena pubertas, apalagi menjelang UN (Ujian Nasional) yang mungkin aja jadi pemicu Hormonal Stress Acne di wajahku. Tetapi ternyata sampai sekarang, umur aku yang menginjak 26 tahun, wajah aku belum beabs juga dari penjajajahan si jerawat ini. Akhirnya selama rentan waktu 5 tahun ke belakang, aku udah mencoba berbagai perawatan secara natural seperti pakai lemon, maskeran putih telur, irisan bawang putih yang ditumbuk malah jadi perih dan ngebakar kulitku, getah lidah buaya yang setiap malam aku pakai sebelum tidur sampai maskeran madu dan teh basi. Aku juga sempet nyoba pakai bedak Caladine berdasarkan googling sana sini, ternyata hasilnya enggak signifikan. Hampir hopeless dan jadi gak pede-lah yang membuat aku curhat ke ortu yang saat itu aku masih kuliah dan enggak punya uang banyak selain uang jajan perbulan, jadinya mereka menyarankan aku untuk ke dokter kulit.
Akhirnya aku sempet nyoba perawatan di daerah Bangka, Kemang. Iya, jauh banget perawatannya dari rumahku yang lokasinya di Bekasi. Aku disarankan ke tempat itu karena kebetulan kakak sepupu aku juga perawatan disana, dulu mukanya penuh jerawat dan saat dia menyarankan kesana wajahnya udah mulus dan kenyal. Saat pertama kesana aku disuruh facial dan disuntik jerawat, dikasih obat minum dan juga beberapa produk perawatan seperti sabun cleanser sama krim jerawat. Setelah beberapa minggu mulai terlihat hasilnya, tetapi karena dasar aku kurang rutin konsultasi ke dokternya jadinya jerawatan lagi. Sistemnya memang harus sebulan sekali konsultasi , tapi karena aku fikir jerawatku udah berangsur-angsur hilang selama hampir setahun jadi aku cuma mampir sebulan sekali buat beli krim dan sabunnya, bahkan facial juga enggak pernah lagi.

Setelah frustasi karena jerawat balik lagi dan ngerasa krim jerawatnya enggak ngefek lagi kaya pertama perawatan, aku jadi males balik kesana. Sabun cleanser-nya juga yang mengandung sulfur bikin wajahku kering banget, jadinya aku putuskan untuk pindah ke dokter kulit lain.

Akhirnya aku coba ke dokter di rumah sakit umum kawasan Salemba, disana aku memulai proses perawatan dari dasar lagi. Konsultasi dan langsung tindakan facial. Disana aku harus lumayan antri karena memang banyak juga pasiennya dan beda-beda dokternya, bulan pertama aku rutin facial dan peeling agar kulit mati mengelupas dan bekas jerawatnya hilang. Proses setelah peeling itu yang lumayan ngetes kesabaran, gimana enggak selama 3 hari aku harus cuci muka rutin trus apply krim peeling dan enggak boleh keluar apalagi kena sinar matahari. Sang dokter pun bilang kalau enggak penting-penting banget enggak usah keluar rumah. Setelah 3 hari berlalu, kulit wajah aku kaya uler baru ganti kulit, rasanya gatel udah gitu pengen ngelupas semua yang ada di wajah. Dokter udah kasih warning enggak boleh dikelupas sendiri, biarin aja sampai semua terkelupas alami. Pokoknya semua aku lakuin karena aku udah bertekad wajahku harus mulus, sayang juga sama uang orang tuaku yang udah banyak habis karena perawatan ini. Di dokter yang ini aku dikasih facial wash yang bentuknya kaya sampo, belinya pun di apotik, krim - krimnya pun banyak, aku beli krim anti iritasi, krim sunblock dan krim jerawat. Perubahan secara signifikan ada, tapi yang bikin aku berhenti adalah kulit aku yang malah jadi sensitif dan merah-merah. Kalau keluar di siang hari, wajahku fixed kaya kepiting rebus, walapun udah pakai sunblock-nya, sampai-sampai aku gak tahan lagi dan berhenti total dari situ.

Akhirnya ada temen kuliah aku yang merekomendasikan dokter kulit tempat perwatan dia. Kulitnya sih enggak bagus tapi jerawatnya hilang waktu itu. Aku akhirnya ikut saran dia dan berganti ke dokter tempat dia perawatan wajah. Harga-harga obat dan krim-nya pun relatif murah, untuk facial aku enggak pernah dan enggak mau coba lagi karena aku trauma. Buat aku, facial itu malah memperparah kondisi dan tekstur kulit wajahku, aku merasa pori-pori ku malah makin terlihat dan ada beberapa acne scarring di wajahku. Aku juga enggak konsultasi sama dokternya tetapi langsung beli krim-krimnya persis seperti yang teman aku anjurkan. Ada obat minum (hitam merah), sabun jerawat, Cleanser, Toner, Obat Bersih dan juga Sunblock. Tapi entah kenapa tiap aku pakai sunblock-nya muncul banyak whitehead di wajahku, akhirnya aku enggak pernah pakai sunblock-nya. Kulit wajah berangsur-angsur mulus walaupun beberapa hal yang aku perhatikan kondisi wajahku jadi berubah, jadi super oily dan gampang keringetan. Awalnya aku pede-pede aja karena glowing dan mulus, tetapi lama-lama muncul dry patches di area mulut dan setiap aku pakai make up jadi ngeganggu banget. Ternyata si obat bersih yang fungsinya ngelupas si sel-sel kulit lama jadinya kulitku banyak dry patches, kadang ada di dahi dan dagu. kalau enggak pakai obat bersih sehari aja rasanya jerawat baru pada bermunculan. nah selama dua tahun aku ngerasa si obat bersih ini yang bikin kulitku jadi manja alias ketergantungan. Akhirnya bener aja, aku coba berhenti seminggu aja wajahku langsung muncul jerawat baru baik mild acne ataupun adult acne

Setelah menyadari kalau kulitku jadi ketergantungan krim, akupun berhenti total. Beneran niat berhenti total, karena aku kasihan sama kulitku. Mulus tetapi jadi rusak kalau enggak pake krim jerawatnya terus-terusan gitu sampe tua? merawat diri beda yah dengan konsumsi addict ke krim wajah. Merawat wajah itu misalnya maskeran atau apalah yang bikin kulit jadi sehat dan kencang. Kalau untuk non-stop harus pakai krimnya sampe kapan? Akhirnya ini udah hampir sebulan wajahku lagi di detox dari krim-krim wajah. Untuk cleanser toner aku pakai yang sekiranya cocok aja, untuk facial wash aku pakai produk lokal dan untuk pelembab yang bisa dibeli di pasaran dengan kategori untuk kulit sensitif jadi aman untuk wajahku. Yang penting 3 steps, Cleansing, Toning dan Pelembab.

Semoga aku bakal tahan sampe nanti , enggak tergiur dengan perawatan dokter lagi. Soalnya aku lebih suka kulit aku bebas dari ketergantungan walaupun masih ada jerawat, dibandingkan kulit mulus tapi jadi addict ke krim dokter alias ga bisa lepas. Merawat kulit bisa dengan bahan-bahan alami ataupun produk-produk yang ada di pasaran, yang penting kita harus perhatiin juga Dermatological Tested gak, Non-Comedogenic atau gak. Semua juga kan perlu perawatan, hanya aja aku milih perawatan yang lebih "masuk akal" dan engga bikin ketergantungan. Jerawat juga banyak faktornya, baik dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Jadi sering-sering aja belajar lebih care tentang apa yang kita makan, apa yang kita pakai untuk wajah (make up & skincare) dan gimana sih pola hidup kita. 

Setelah aku telusuri, ada beberapa hal yang mempengaruhi jerawatku yaitu :

1. Siklus haid yang kurang teratur
2. Makanan pedas dan berminyak
3. Makan telur ataupun olahannya  : mau direbus, digoreng ceplok,didadar apapun teknik masaknya aku langsung jerawatan tiap abis makan telur
4. Kurang minum : selalu akan muncul jerawat di dahi kalau aku kurang minum
5. Terlalu banyak makan cokelat, roti, susu dan snack cemilan yang banyak MSG atau pengawetnya
6. Lupa mengganti sarung bantal secara rutin 2-3 kali seminggu
7. Produk make up yang clog pores, begitu juga skincare yang enggak cocok
8. Kondisioner yang terlalu rich bakal bikin muncul whitehead di sekitar dahi
9. Sering memegang wajah secara langsung
10. Terlalu sering terkena paparan sinar matahari
11. Begadang
12. Stress dan fikiran

Kalau aku udah ketemu metode yang pas dan berhasil di aku, pastinya bakal aku share di post yang akan datang ^^

Wish me luck ,

Share:

0 comment