Asuransi Jiwa Syariah : Manfaat dan Keuntungannya

Masih berbicara tentang asuransi, di kesempatan ini Saya ingin membahas tentang asuransi jiwa khususnya asuransi jiwa syariah dan apa saja sih manfaat yang didapatkan apabila kita memilih asuransi tersebut. Berdasarkan beberapa masalah asuransi jiwa yang Saya temukan di situs pencarian  maka Saya memutuskan untuk berbagi info dengan pembaca melalui tulisan ini. Sudah lama Saya mendengar tentang asuransi syariah namun sepertinya asuransi ini masih awam untuk sebagian orang. Disini Saya ingin membagikan penjelasan secara lebih spesifik keuntungan serta manfaat yang akan diterima sebagai pemilik asuransi jiwa syariah sebelum Anda atau Saya memutuskan untuk memilih produk asuransi tersebut.


Sebelumnya, Saya ingin menjelaskan pengertian dari asuransi jiwa terlebih dahulu. Asuransi jiwa adalah sebuah janji dari perusahaan asuransi kepada nasabahnya bahwa apabila si nasabah mengalami resiko kematian pada hidupnya, maka perusahaan asuransi akan memberikan santunan dengan jumlah tertentu kepada ahli waris pada nasabah tersebut. Menurut ketentuan pasal 304 KUHD , polis asuransi jiwa memuat : hari diadakan asuransi, nama tertanggung, nama orang yang jiwanya diasuransikan, saat mulai dan berakhirnya evenemen yang merupakan jangka waktu berlaku asuransi, jumlah asuransi serta premi asuransi. Asuransi jiwa dapat berakhir disebabkan beberapa hal seperti terjadinya evenemen, jangka waktu yang telah berakhir, asuransi telah gugur dan asuransi dibatalkan.

Penjelasan lebih lengkap terjadinya evenemen seperti yang telah Saya sebutkan di atas, yaitu satu-satunya evenemen yang menjadi beban penanggung adalah meninggalnya tertanggung. Maka diadakan asuransi jiwa antara tertanggung dan penanggung. Apabila dalam jangka waktu yang telah ada dalam perjanjian terjadi peristiwa meninggalnya tertanggung, maka penanggung berkewajiban membayar uang santunan kepada penikmat yang ditunjuk oleh tertanggung atau kepada ahli warisnya. Terhitung sejak penanggung melunasi pembayaran uang santunan tersebut, saat itu pula asuransi jiwa berakhir.

Lantas bagaimana apabila asuransi jiwa berakhir sejak pelunasan uang santunan, bukan sejak meninggalnya tertanggung (terjadi evenemen)? Menurut hukum perjanjian, suatu perjanjian yang dibuat oleh pihak-pihak berakhir apabila prestasi masing-masing pihak telah dipenuhi. Karena asuransi jiwa adalah perjanjian, maka asuransi jiwa berakhir sejak penanggung melunasi uang santunan sebagai akibat dan meninggalnya tertanggung. Dengan kata lain, asuransi jiwa berakhir sejak terjadi evenemen yang diikuti dengan pelunasan klaim.


Dalam pandangan islam, beberapa ulama fiqih berbeda pendapat tentang hukum kehalalan sistem asuransi. Sebagian ulama mengaitkan asuransi jiwa (kovensional) ini dengan riba karena uang hasil premi dari pemilik asuransi didepositokan dalam bentuk pembungaan uang dan inilah mengapa beberapa ulama menganggap sistem asuransi adalah haram. Lantas bagaimana dengan asuransi jiwa syariah? Adakah perbedaannya dengan asuransi jiwa konvensional? Apa saja manfaat atau keuntungan yang didapatkan dengan memiliki asuransi syariah?

Salah satu perbedaan yang bisa dilihat antara asuransi konvensional dengan asuransi syariah adalah sumber pembayaran klaim. Sumber pembayaran klaim asuransi konvensional berasal dari rekening perusahaan, peserta berkewajiban membayar sejumlah premi sebagai tertanggung dan perusahaan berkewajiban membayar klaim sebagai penanggung apabila peserta mengalami musibah atau jatuh tempo. Sedangkan sumber pembayaran klaim asuransi syariah berasal dari rekening tabarru, yaitu rekening dana tolong menolong dari seluruh peserta yang sejak awal sudah diakadkan dengan ikhlas oleh peserta untuk keperluan saudara-saudaranya apabila mengalami musibah atau meninggal dunia.


Inilah alasan mengapa memilih asuransi jiwa syariah itu penting, selain karena asuransi ini melalui akad yang sesuai dengan syariah dan islam sendiri memiliki dasar hukum yang terkait dengan asuransi syariah itu sendiri. Konsep di dalam asuransi syariah yang saling memikul resiko diantara sesama peserta sehingga antara satu dan lainnya menjadi penanggung atas resiko yang muncul. Asuransi syariah yang berdasarkan konsep tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, sehingga semua peserta dalam keluarga besar untuk saling melindungi dan menanggung resiko keuangan yang terjadi diantara mereka. Konsep takaful yang menjadi dasar asuransi syariah meliputi 3 prinsip dasar yaitu : saling bertanggung jawab, saling bekerja sama dan membantu serta saling melindungi.


Asuransi syariah juga memiliki banyak manfaat antara lain : dana yang dikelola atau dana Tabarru terjamin halal, keuntungan dari dana yang dikelola pun akan dibagikan ke seluruh peserta secara merata, diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah yang bertanggung jawab langsung ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan juga Otoritas Jasa Keuangan, serta saat pemberian dana peserta tidak hanya mendapatkan klaim atas dana tersebut namun juga mendapatkan dana manfaat yaitu dana santunan yang diambil dari dana Tabarru jika terjadi resiko.

Jika melihat ke belakang, perkembangan asuransi syariah tidak terlepas dari perkembangan bank syariah di berbagai lembaga keuangan. Hal tersebut membuat perusahaan-perusahan asuransi pun memiliki asuransi syariah. Perkembangan ekonomi syariah yang mulai meningkat terlihat dengan semakin banyaknya bank-bank islam yang menerapkan prinsip syariah. Perkembangan positif ini juga terlihat pada perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dengan meningkatnya aset perbankan syariah mulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 seperti gambar di bawah ini.

Keterkaitan dengan perkembangan asuransi syariah memang tidak lepas dari pesatnya perkembangan lembaga keuangan syariah. Dan data yang Saya dapat dari BAPEPAM-LK Kementerian Keuangan RI di bawah ini menggambarkan perkembangan asuransi syariah di Indonesia sejak tahun 2006 sampai 2011, apabila dilihat lebih spesifik lagi dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan walaupun ada juga penurunan namun data ini sebagai gambaran bahwa asuransi syariah mulai banyak dipilih oleh masyarakat di Indonesia.


Serta grafik di bawah ini terlihat jelas bahwa pertumbuhan klaim asuransi syariah dan asuransi sosial mengalami kenaikan. Untuk garis kuning adalah indikator asuransi sosial yang mencapai Rp 75 triliun sedangkan garis oranye mengacu pada asuransi syariah yang pertumbuhannya mencapai Rp 3,3 triliun di akhir tahun 2015.

Dan berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampai akhir tahun 2017 aset dari industri perasuransian syariah mencapai Rp 40,52 triliun. Tentunya jumlah ini mengalami kenaikan 21,9% dari posisi pada akhir tahun sebelumnya yang sebesar Rp 33,24 triliun. Peningkatan dalam industri ini juga diharapkan bisa mendorong ekonomi nasional, walaupun memang ditemukan beberapa hal yang menjadi kendala perkembangan asuransi syariah di Indonesia seperti minimnya modal, kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang profesional, kurangnya informasi atau ketidaktahuan masyarakat terhadap produk asuransi syariah dan banyak hal lainnya namun dengan dukungan pemerintah semoga asuransi syariah bisa tumbuh lebih pesat dan berkembang, seperti pertumbuhan asuransi konvensional.

Setelah membaca lebih jauh masalah asuransi jiwa, mencari tahu manfaat dan keuntungan yang didapatkan oleh peserta serta perbedaannya antara asuransi jiwa dan asuransi jiwa syariah. Melihat lebih jauh tentang perkembangan asuransi syariah ini dari waktu ke waktu, Saya berharap dengan tulisan ini masyarakat bisa lebih terbuka lagi mengenai asuransi syariah dan diharapkan asuransi syariah akan terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat. Apalagi negara Indonesia merupakan negara mayoritas muslim terbesar di dunia, yang dimana asuransi syariah bisa menjadi pilihan terbaik untuk perlindungan masyarakat karena sesuai dengan prinsip-prinsip islam.





Share:

0 comment

Thank you for your comment! :)